Senin, 12 November 2012

A. PENGERTIAN PARAGRAF atau ALINEA


Paragraf atau Alinea adalah seperangkat kalimat yang membahas satu topik atau hanya mengacu pada satu gagasan pokok. Topik dituangkan ke dalam suatu kalimat yang disebut dengan kalimat topik atau kalimat utama, sedangkan kalimat yang menjelaskan kalimat topik disebut kalimat penjelas.
 

B. SYARAT-SYARAT PEMBENTUKAN PARAGRAF
1. Kesatuan yaitu semua kalimat dalam paragraf itu secara bersama-sama mendukung satu ide atau gagasan pokok. Jadi, tidak boleh ada kalimat sumbang atau menyimpang dari pikiran utamanya.


Contoh paragraf berkalimat sumbang


Hari akan hujan. Angin bertiup kencang. Debu-debu beterbangan. Awan hitam bergerak dengan cepat. Burung-burung berkicau riang. Para pedagang kaki lima sibuk mengemas dagangannya.


2. Koherensi yaitu kepaduan atau kekompakan hubungan antara kalimat satu dengan kalimat lain dalam paragraf tersebut. Kepaduan kalimat dalam suatu paragraf dapat dijalin dengan penanda hubungan, baik penanda hubungan eksplisit maupun implisit.


a. Penanda Hubungan secara Eksplisit
- pengulangan kata
Contoh:


Semua isi alam ini adalah makhluk, artinya ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan paling mulia adalah manusia. Manusia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupnya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyakiti, menyiksa, dan menyia-nyiakan.


- kata ganti
Contoh:


Johan anak Bu KArtika. Sekarang ia duduk di kelas III SMP. Tiap pagi teman-temannya selalu menghampirinya. Mereka berangkat dan pulang bersama-sama.


- kata-kata penghubung
Contoh:


Semalam suntuk Darto menonton pertandingan sepakbola di televisi. Oleh karena itu, ia bangun kesiangan. Akibatnya, ia terlambat masuk ke sekolah.


b. Penanda Hubungan secara Implisit
Contoh:


Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalan. Sinarnya yang keemasan membuat suasana sangat cerah. Angin segar bertiup sepoi-sepoi basa menggerak-gerakkan daun pepohonan. Burung-burung pun berkicau riang. Tampak segalanya indah.


3. Pengembangan yaitu pengembangan ide atau gagasan dengan menggunakan kalimat-kalimat pendukung.


4. Efektif yaitu disusun dengan menggunakan kalimat efektif sehingga ide bisa tersampaikan dengan tepat. 


Keempat unsur penyusun alinea tersebut,terkadang muncul secara bersamaan,terkadang pula hanya sebagian yang muncul dalam sebuah alinea.

1. Alinea yang Memiliki Empat Unsur
Susunan alinea jenis ini terdiri atas :
Tarnsisi (berupa kata,kelompok kata,atau kalimat);
Kalimat topik;
Kalimat pengembang;
Kalimat penegas.
 

2. Alinea yang Memiliki Tiga Unsur
Alinea jenis ini terdiri atas :
Transisi (berupa kata,kelompok kata,atau kalimat);
Kalimat topik;
Kalimaat pengembang.
 

3. Alinea yang Memiliki Dua Unsur
Alinea jenis ini terdiri atas :
Kalimat topik;
Kalimat pengembang.

 

  •  Pengertian Ide Pokok
Ide pokok yaitu inti suatu bacaan, baik dalam bentuk paragraf atau pun wacana
  •   Kalimat
adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir.


  •  Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan.
  •     Dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
  •     Sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat. Predikat transitif disertai objek, predikat intransitif dapat disertai pelengkap.
  •     Mengandung pikiran yang utuh.
  •     Mengandung urutan logis, setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, predikat, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya. 
  • Mengandung satuan makna, ide, atau pesan yang jelas
http://denimulya.blogspot.com/2009/12/makalah-alinea_23.html 

 

Sabtu, 03 November 2012

KALIMAT EFEKTIF


                          Kalimat Efektif 


  • Pengertian kalimat efektif :


                Kalimat yang baik adalah kalimat yang dapat memberikan kemudahan atau kejelasan pesan kepada pembaca atau pendengar. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Dengan kata lain, kalimat dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu secara tepat mewakili gagasan atau perasaan penyampai pesan dan sanggup memberikan gambaran yang sama tepatnya kepada pembaca atau pendengar.

Untuk mewujudkan kalimat yang efektif, kalimat harus mengandung beberapa unsur, antara lain: kesatuan gagasan dan kesepadanan struktur, kepaduan (koherensi) yang kompak, adanya penekanan, kesejajaran (keparalelan) bentuk, kehematan kata, kelogisan, dan kevariasian.  Hal itu juga sependapat dengan Akhadiah (1991:116) yang mengatakan bahwa ciri kalimat efektif adalah :



  • ciri kalimat efektif :



1. Koherensi (keutuhan)

Koherensi (keutuhan) dalam kalimat terlihat pada adanya keterkaitan makna antardata dalam kalimat tersebut. Perhatikan contoh dibawah ini :


(1a)      Kami pun akhirnya saling mencintai.
(1b)      Saya pun akhirnya saling mencintai.
(2a)      Mereka berbondong-bondong menuju pertunjukan rakyat itu.
(2b)      Dia berbondong-bondong manuju pertunjukan rakyat itu.

Kalimat (1a) dan (2a) di atas merupakan contoh kalimat yang memiliki keutuhan atau kepaduan, sedangkan kalimat (1b) dan (2b) tidak. Penggunaan kata ganti orang pertama tunggal saya pada (1b) sebagai subjek predikat verba saling memaafkan tidaklah tepat. Predikat verba itu memerlukan kata ganti orang yang jamak. Sementara itu, pada kalimat (2b) terlihat pada penggunaan kata ganti dia sebagai subjek predikat verba berbondong-bondong. Predikat verba itu memiliki ciri (semantis) dengan subjek jamak.

2.       Kesatuan Gagasan dan Kesepadanan Struktrur

Setiap kalimat yang baik harus secara jelas memperlihatkan kesatuan gagasan dan mengandung satu pokok permasalahan. Apabila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan, maka akan hilang kesatuan pikiran tersebut. Sebuah kesatuan gagasan secara praktis diwakili oleh subjek, predikat, dan bisa juga ditambah objek. Kesatuan tersebut dapat berbentuk kesatuan tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan.
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Untuk mewujudkan kesepadanan struktur, maka kalimat harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a.     Kalimat harus memiliki subjek dan predikat yang jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:

·         Bagi semua mahasiswa yang memakai kaos oblong dilarang mengikuti perkuliahan.
Kata bagi seharusnya dihilangkan, karena menimbulkan ketidakjelasan subjek.
Seharusnya
·         Mahasiswa yang memakai kaos oblong dilarang mengikuti perkuliahan.

b.  Kalimat tidak mengandung subjek ganda. Subjek yang ganda dalam kalimat menimbulkan penafsiran yang salah bagi pembaca. Oleh karena itu, subjek yang ganda menyebabkan kalimat yang tidak efektif.
Contoh:

·         Pertanyaan itu saya kurang jelas.
 Kalimat tersebut mempunyai subjek ganda, yaitu pertanyaan itu dan saya. Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan cara menambah bagi diantaranya pertanyaan itu  dan saya.
Seharusnya
·         Pertanyaan itu bagi saya kurang jelas.

c.      Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh :

·         Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara itu.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan mengubahnya menjadi kalimat majemuk atau mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat.
Seharusnya
·         Kami datang agak terlambat, sehingga kami tidak dapat mengikuti acara itu.
·         Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara itu.


3.       Penekanan

Setiap kalimat memiliki sebuah ide pokok. Penekanan dilakukan untuk memberikan penjelasan berkaitan dengan hal yang dirasa penting. Penulis dapat melakukan berbagai cara untuk memberikan  penekanan pada kalimat efektif. Cara tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a.       Mengubah posisi kalimat
Sebuah kalimat dapat diubah-ubah strukturnya untuk mencapai efek yang diinginkan atau dipentingkan. Untuk mencapai efek yang diinginkan atau dipentingkan, maka penulis menempatkan sebuah kata yang penting berada pada awal kalimat.
Contoh :

·         Mahasiswa menjawab pertanyaan dosen penguji.
Penekanan ini dapat diubah dengan menjadi kalimat pasif. Berikut adalah contoh kalimat tersebut:
Pertanyaan dosen penguji dijawab mahasiswa.
 
b.      Menggunakan repetisi (pengulangan kata)
Pengulangan kata (repetisi) dalam kalimat kadang diperlukan untuk memberikan penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting. Pengulangan kata yang demikian dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi lebih jelas. 

Perhatikan contoh kalimat di bawah ini!
 
·         Pembangunan merupakan proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, bukan hanya dimensi ekonomi tetapi juga dimensi  politik, dimensi sosial, dan dimensi budaya.
Berdasarkan kalimat di atas dapat dilihat bahwa kata dimensi merupakan kata yang diulang berturut-turut. Oleh karena itu, kata dimensi merupakan kata yang akan ditekankan oleh penulis.

c.       Menggunakan pertentangan
Pertentangan dapat pula dipergunakan untuk menekan suatu gagasan.
Perhatikan contoh kalimat di bawah ini!
Anak itu rajin.
Kalimat tersebut dapat lebih ditonjolkan bila ditempatkan dalam suatu posisi pertentangan, misalnya:
Anak itu rajin, bukan malas.

d.      Menggunakan partikel penekanan
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel yang berfungsi menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat. Partike-partikel yang dimaksud adalah: lah, pun, kah, yang dalam tata bahasa disebut imbuhan.
Perhatikan contoh kalimat di bawah ini!
(1)          Kami pun ikut dalam kegiatan itu.
(2)          Bapaklah yang memberikan sambutan itu.


4.       Kesejajaran (Paralelisme)

Kalimat efektif juga harus mengandung kesejajaran (paralelisme) antara gagasan yang diungkapkan dan bentuk bahasa sebagai sarana pengungkapnya.  Jika dilihat dari segi bentuknya, kesejajaran itu dapat menyebabkan keserasian. Jika dilihat dari segi makna atau gagasan yang diungkapkan, kesejajaran itu dapat menyebabkan informasi yang diungkapkan menjadi sistematis sehingga mudah dipahami.
Jenis pembentukan paralelisme sebagai berikut :

a.      Kesejajaran Bentuk

Bentuk kalimat yang tidak tersusun secara sejajar dapat mengakibatkan kalimat itu tidak serasi.
Contoh:

·         Buku itu telah lama dicari, tetapi Dodi belum menemukannya.
·         Peneliti sudah mengambil data, mencatatnya, kemudian dianalisis, dan dibahas.

Kalimat di atas tidak sejajar karena menggunakan bentuk kata kerja pasif (dicari) yang dikontraskan dengan bentuk aktif (menemukan). Agar sejajar, kedua bagian kalimat tersebut harus menggunakan bentuk pasif semuanya atau bentuk aktif semuanya.
Kalimat yang tepat adalah sebagai berikut :

·         Buku itu telah dicari, tetapi belum ditemukan oleh Dodi.
·         Dodi telah lama mencari buku itu, tetapi belum menemukannya.
·         Peneliti sudah mengambil data, kemudian mencatatnya, menganalisis, dan membahasnya

b.      Kesejajaran Makna

Unsur lain yang harus diperhatikan dalam pemakaian suatu bahasa adalah segi penalaran atau logika. Kesejajaran makna ini berkaitan erat dengan penalaran. Penalaran dalam sebuah kalimat merupakan masalah yang mendasari penataan gagasan. Penalaran sangat berhubungan dengan jalan pikiran. Jalan pikiran penulis turut menentukan baik tidaknya kalimat yang dibuat, mudah tidaknya kalimat tersebut dipahami sesuai pemikiran penulis.
Contoh:

      Masyarakat mengecam keras atas terjadinya pembunuhan 21 warga Palestina yang tewas dan 200 lainnya yang luka-luka.
Kalimat tersebut bukan termasuk kalimat efektif, karena untuk memahaminya, pembaca dituntut berpikir keras. Jika kita cermati akan terdapat kejanggalan karena tidak mungkin pembunuhan dilakukan terhadap orang yang sudah tewas.
Seharusnya
      Masyarakat mengecam keras atas terjadinya peristiwa yang mengakibatkan 21 warga Palestina tewas dan 200 lainnya luka-luka. 

c.       Kesejajaran Bentuk dan Maknanya

Beberapa gagasan yang bertumpuk dalam satu pernyataan dapat mengaburkan kejelasan informasi yang diungkapkan.
Contoh :

      Penanaman pohon akasia sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga, sebagai tindak lanjut Perda tentang penghijauan.
Kalimat tersebut tidak efektif karena terlalu sarat dengan informasi.
Agar efektif, kalimat tersebut harus dikembalikan pada gagasan semula, yang terungkap dalam beberapa kalimat berikut.
      Penanaman pohon akasia sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga.
      Penanaman ini melibatkan berbagai elemen masyarakat dari tingkat RT sampai tingkat kalurahan.
      Hal ini merupakan tindak lanjut Perda tentang pernghijauan.

5.       Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase, atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan ini menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti menghilangkan kata, frase yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat. Untuk mewujudkan kehematan dalam menyusun kalimat efektif ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.

a.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:

·         Karena Ali terlambat, dia tidak dapat mengikuti perkuliahan.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
·         Karena terlambat, Ali tidak dapat mengikuti perkuliahan.

b.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.

·         Kata merah sudah mencakupi kata warna.
·         Kata pipit sudah mencakupi kata burung.

Perhatikancontoh berikut!

·         Ia memakai baju warna merah.
·         Di mana kamu menangkap burung pipit itu?
Kalimat itu dapat diubah menjadi
·         Ia memakai baju merah.
·         Di mana engkau menangkap pipit itu?

c.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.

·         Kata naik bersinonim dengan ke atas.
·         Kata turun bersinonim dengan ke bawah.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
·         Silakan naik ke atas ruangan itu!
·         Baru saja pejabat itu turun ke bawah melalui tangga ini.
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
·         Silakan naik ke ruangan itu!
·         Baru saja pejabat itu turun melalui tangga ini.

d.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Misalnya:

Bentuk Tidak Baku                                    Bentuk Baku
para tamu-tamu                                            para tamu
beberapa orang-orang                                  beberapa orang


6.       Kelogisan ( salah nalar )

Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Perhatikan kalimat di bawah ini: ( salah nalar )

·         Kepada Bapak Camat waktu dan tempat kami persilakan.
·         Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.

Kalimat itu tidak logis ( salah nalar ). Yang logis adalah sebagai berikut.

·         Kepada Bapak Camat kami persilakan.
·         Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.

7.
       Kevariasian
 
Seorang penulis harus berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan yang pada akhirnya akan menimbulkan kebosanan. Penulis harus berusaha agar pembaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat membuat pembaca terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menulis. Menulis memerlukan ketekunan, latihan, dan pengalaman.
Variasi bertentangan dengan repetisi. Variasi dilakukan guna memperoleh keanekaragaman bentuk-bentuk bahasa agar minat dan perhatian orang tetap terpelihara.Variasi itu dapat dicapai dengan menggunakan bentuk inversi, bentuk pasif persona, variasi aktif-pasif, dan variasi panjang pendek.
Macam-macam variasi yang menunjang keefektifan kalimat

a.       Variasi sinonimi kata
      Variasi berupa sinonimi kata, atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakikatnya tidak merubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
Perhatikan contoh kalimat berikut!
      Dari renungan itu penyair menemukan suatu makna, suatu realitas baru, suatu kebenaran yang menjiwai seluruh puisi. 

b.      Variasi panjang pendek kalimat
Variasi dalam panjang pendeknya struktur kalimat mencerminkan kejelasan pikiran pengarang. Pilihan yang tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan. Variasi panjang pendek kalimat ini dapat langsung dilihat contohnya dalam suatu paragraf. Paragraf yang variatif dalam mempergunakan panjang pendeknya kalimat adalah paragraf yang tidak menjemukan apabila dibaca. 

c.       Variasi penggunaan bentuk me- dan di-
Pemakaian bentuk yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Perlu dicari vaiasi pemakaian bentuk gramatikal terutama penggunaan prefiks me- dan di-

d.      Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai sangkut paut dengan penekanan dalam kalimat.


  •  Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:

1.secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2.mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.


  • sumber :
http://artikel-mini.blogspot.com/2011/12/kalimat-efektif.html
http://hamisatimuftia.wordpress.com/2012/10/28/881/

Selasa, 23 Oktober 2012

KALIMAT

KALIMAT

  • PENGERTIAN KALIMAT :   
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir.
Kalimat dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan jenis dan fungsinya yang akan dijelaskan pada bagian lain.
Contohnya : seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat pasif, kalimat perintah, kalimat majemuk

  • KESIMPULANNYA :
kalimat adalah susunan dari kata kata yang sudah teratur

  • UNSUR UNSUR KALIMAT :
Unsur-unsur inti kalimat antara lain SPOK : 

Subjek / Subyek (S)
Disamping predikat, kalimat umumnya mempunyai unsur yang berfungsi sebagai subjek. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Subjek umumnya berwujud nomina, tetapi pada kalimat-kalimat tertentu, katagori lain bisa juga mengisi kedudukan subjek.
Pada sepuluh contoh kalimat di atas, kata atau frasa Yasmina, Anda dan saya, letusan Gunung Merapi, makanan itu, ayah saya, anak kami, peserta audisi itu, dia, dan Pak Nurdin berfungsi sebagai subjek. Subjek yang tidak berupa nomina, bisa ditemukan pada contoh kalimat seperti ini:

1. Merokok merupakan perbuatan mubazir.
2. Berwudlu atau bertayamum harus dilakukan sebelum sholat.
3. Tiga adalah sebuah angka.
4. Sakit bisa dialami semua orang.

– Predikat (P) 
Predikat dalam pandangan aliran struktural dianggap unsur yang paling penting dan merupakan inti kalimat. Predikat dalam bahasa Indonesia bisa berwujud kata atau frasa verbal, adjektival, nominal, numeral, dan preposisional.
Perhatikan beberapa contoh kalimat di bawah ini:

a. Yasmina duduk-duduk di ruang tamu.
b. Anda dan saya tidak harus pergi sekarang.
c. Letusan Gunung Merapi keras sekali.
d. Makanan itu mahal.
e. Ayah saya guru bahasa Indonesia.
f. Anda guru?
g. Anak kami tiga .
h. Peserta audisi itu puluhan ribu orang.
i. Dia dari Medan
j. Pak Nurdin ke Saudi.

Pada sepuluh kalimat di atas, terdapat bagian yang dicetak miring. Ada yang berbentuk kata maupun frasa (lebih dari satu kata). Kata atau frasa yang dicetak miring tersebut berfungsi sebagai predikat.
Kalimat a dan b adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori verbal, disebut kalimat verbal. Kalimat c dan d adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori adjektival, disebut kalimat adjektival. Kalimat e dan f adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori nominal, disebut kalimat nominal. Kalimat g dan h adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori numeral, disebut kalimat numeral. Kalimat i dan j adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori preposisional, disebut kalimat preposisional.

– Objek / Obyek (O)
Objek bukan unsur wajib dalam kalimat. Keberadaanya umumnya terletak setelah predikat yang berkatagori verbal transitif. Objek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya dijadikan kalimat aktif. Objek umumnya berkatagori nomina.
Berikut contoh objek dalam kalimat:

a. Dr. Ammar memanggil suster Ane.
b. Adik dibelikan ayah sebuah buku.
c. Kami telah memicarakan hal itu

Suster ane, ayah, sebuah buku, dan hal itu pada tiga kalimat di atas adalah contoh objek. Khusus pada kalimat b. Terdapat dua objek yaitu ayah (objek 1) dan sebuah buku (objek 2)

– Keterangan (K)
Unsur kalimat yang tidak menduduki subjek, predidkat, objek, maupun pelengkap dapat diperkirakan menduduki fungsi keterangan. Berbeda dengan O dan PEL. yang pada kalimat selalu terletak dibelakang P, unsur yang berfungsi sebagai keterangan (K) bisa terletak di depan S atau P.
Contoh:

a. Di perpustakaan kami membaca buku itu.
b. Kami membaca buku itu di perpustakaan.
c. Kami /di perpustakaan/ membaca buku itu.
d. Tono mencabut paku dengan tang.
e. Dengan tang Tono mencabut paku.
f. Tono /dengan tang/ mencabut paku.

Pada enam kalimat di atas, tampak bahwa frasa di perpustakaan dan dengan tang yang berfungsi sebagai keterangan mampu ditempatkan di awal maupun di akhir. Khusus jika ditempatkan antara S dan P, cara membacanya (intonasi) harus diubah sedemikian rupa (terutama jeda) agar pemaknaan kalimat tidak keliru.
Dilihat dari bentuknya, keterangan pada sebuah kalimat bisa dikenali dari adanya penggunaan preposisi dan konjungsi (di, ke, dari, kepada, sehingga, supaya, dan sejenisnya.). Akan tetapi, tidak semua keterangan berciri demikian, ada pula keterangan yang berbentuk kata, seperti pada contoh berikut:

a. Kami telah mengengoknya kemarin.
b. Tiga tahun kami telah bekerja sama dengannya.

Pelengkap ( PEL )
Pelengkap atau komplemen mirip dengan objek. Perbedaan pelengkap dengan objek adalah ketidakmampuannya menjadi subjek jika kalimatnya yang semula aktif dijadikan pasif. Perhatikan kata-kata yang dicetak miring pada kalimat-kalimat di bawah ini. Kata-kata tersebut berfungsi sebagai pelengkap bukan objek.
Contoh:

a. Indonesia berdasarkan Pancasila
b. Ardi ingin selalu berbuat kebaikan
c. Kaki Cecep tersandung batu.

  • CIRI CIRI KALIMAT :
Berwujud dalam bentuk lisan dan tulisan
Kalimat aktif sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat.
Predikat transitif disertai objek, sedangkan predikat intransitif dapat disertai pelengkap.
Mengandung pikiran yang utuh.
Menggunakan urutan logis dan setiap kata mengandung fungsi (subjek, predikat, objek dan keterangan) dan disusun menurut fungsinya.
Mengandung makna, ide, ataupun pesan yang jelas.

  • POLA KALIMAT :
Dalam suatu kalimat yang biasa digunakan terdapat pola pola kalimat dapat dikembalikan kedalam sejumlah kalimat dasar yang sangat terbatas. Dengan perkataan lain, semua kalimat yang kita gunakan berasal dari beberapa pola kalimat dasar saja. Kalimat dasar tersebut dapat berupa :

- Kalimat dasar berpola SP
Terdiri dari subjek dan predikat. Predikat dapat berupa:

o kata kerja (Ohno(S) sedang memancing(P))
o kata benda (Ayahnya(S) juru masak(P))
o kata sifat (Ohno(S) baik hati(P))
o kata bilangan (Personil Arashi(S) 5 orang(P))

- Kalimat dasar berpola SPO
Mempunyai unsur Subjek, Predikat, dan Objek. Contoh : Mereka(S) sedang menyelenggarakan(P) konser(O).

- Kalimat dasar berpola SP Pel.
Mempunyai unsur Subjek, Predikat, dan Pelengkap. Contoh : Nino(S) berpakaian(P) rapi(Pel).

- Kalimat dasar berpola SPO Pel.

Terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Pelengkap. Contoh : Ohno(S) membelikan(P) Nino(O) topi(Pel).

- Kalimat dasar berpola SPK
Terdiri dari Subjek, Predikat, dan Keterangan. Contoh : Aiba(S) berasal dari(P) Chiba(K).

- Kalimat dasar berpola SPOK

Terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Contoh : Mereka(S) makan(P) sawo(O) saat festival(K).

Pola-pola kalimat tersebut juga dapat disusun berdasarkan kata kerja (KK), kata sifat (KS), kata benda (KB) dan kata bilangan (KBil). Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

1. KB + KK --> Mereka bernyanyi.
2. KB + KS --> Aiba dermawan.
3. KB + KBil --> Harga album terbaru Arashi delapan ratus ribu.
4. KB + (KD + KB) --> Tinggalnya di Jambi.
5. KB1 + KK + KB2 --> Mereka menonton konser.
6. KB1 + KK + KB2 + KB3 --> Paman mencarikan saya pekerjaan.
7. KB1 + KB2 --> Ohno penyiar.

Ketujuh pola kalimat dasar ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.

  • MACAM MACAM KALIMAT :
Kalimat tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya mempunyai satu pola kalimat. contoh : aku pergi latihan teater besama teman-teman di taman kota selong 
CONTOH : ayah membaca koran di ruang tamu contoh : ibu memasak nasi di dapur pada siang hari

Kalimat majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya. Jenis-jenis kalimat majemuk adalah:

Kalimat Majemuk Setara
Kalimat Majemuk Rapatan
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk setara

Kalimat majemuk setara yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya sejajar atau sederajat.
Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk setara terdiri dari lima macam, yakni:

Konjungsi
Jenis
penggabungan
dan
penguatan/Penegasan
bahkan
pemilihan
atau
berlawanan
di lanjutkan pada sebuah kalimat majemuk yang kedua (sedangkan)
urutan waktu
kemudian, lalu, lantas

Contoh:

Juminten pergi ke pasar. (kalimat tunggal 1)
Norif berangkat ke bengkel. (kalimat tunggal 2)
Juminten pergi ke pasar sedangkan Norif berangkat ke bengkel. (kalimat majemuk)
Norif berangkat ke bengkel sedangkan Juminten pergi ke pasar. (kalimat majemuk)

Kalimat majemuk rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek, predikat atau objeknya sama,maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali.
Contoh:

Pekerjaannya hanya makan. (kalimat tunggal 1)
Pekerjaannya hanya tidur. (kalimat tunggal 2)
Pekerjaannya hanya merokok. (kalimat tunggal 3)
Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)

Kalimat majemuk bertingkat yaitu penggabungan dua kalimat atau lebih kalimat tunggal yang kedudukannya berbeda. Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat unsur induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat timbul akibat perluasan pola yang terdapat pada induk kalimat.
Berdasarkan kata penghubungnya (konjungsi), kalimat majemuk bertingkat terdiri dari sepuluh macam, yakni:

Konjungsi
Jenis
JOTANNN
syarat
jika, kalau, manakala, andaikata, asal(kan)
tujuan
agar, supaya, biar
perlawanan (konsesif)
walaupun, kendati(pun), biarpun
penyebaban
sebab, karena, oleh karena
pengakibatan
maka, sehingga
cara
dengan, tanpa
alat
dengan, tanpa
perbandingan
seperti, bagaikan, alih-alih
penjelasan
bahwa
kenyataan
padahal

Contoh:

Kemarin ayah mencuci motor. (induk kalimat)
Ketika matahari berada di ufuk timur. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)
Ketika matahari berada di ufuk timur, ayah mencuci motor. (kalimat majemuk bertingkat cara 1)
Ayah mencuci motor ketika matahari berada di ufuk timur. (kalimat majemuk bertingkat cara 2)

Kalimat majemuk campuran yaitu gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Sekurang-kurangnya terdiri dari tiga kalimat.
Contoh:

Toni bermain dengan Kevin. (kalimat tunggal 1)
Rina membaca buku di kamar kemarin. (kalimat tunggal 2, induk kalimat)
Ketika aku datang ke rumahnya. (anak kalimat sebagai pengganti keterangan waktu)

  • sumber :